Saat itu siang
yang lumayan terik, sekitar pukul 13:00 WIB (hari dan tanggalnya saya lupa maaf sudah terlalu lama tugas ini terbengkalai) saya beserta rombongan teman-teman
saya berkumpul di komplek lapangan tenis UNY dengan masing-masing sepasang anak
membawa ban truk atau juga ban tronton. Setiap orang yang lewat atau berpapasan
dengan kami pasti melirik dan bingung, di benak mereka pasti terselip sebuah
pertanyaan “Apa pula yg mau dilakukan bocah-bocah itu dengan ban segede itu?”.
Ya memang tampak seperti kurang kerjaan anak kuliahan siang-siang bolong begitu
membawa ban gede-gede, tapi tahukah kalian kalo itu adalah salah satu tugas
mata kuliah kami anak PJKR FIK 2011?
Mungkin memang
sedikit mainstream karena yang akan kami laksanakan adalah modifikasi dari
rafting atau yang lebih di kenal dengan istilah arung jeram. Biasanya arung
jeram ini dilakukan di sungai-sungai yang memiliki arus cukup kuat sehingga
dalam perjalananya mengarungi sungai adrenalin kita akan terpacu. Tapi untuk
kali ini ya namanya juga modifikasi, jadi kita melakukan “rafting” tersebut
tidak lain tidak bukan di tempat berair yang memiliki arus yang paling dekat
dengan kampus SELOKAN MATARAM.
Singkat saja ya
saat itu jarum jam sudah menunjukan pukul 13:45 saat itu juga mahasiswa PJKR A
absen pertama mulai mencemplungkan diri ke Selokan Mataram (SelMa) disusul
dengan no absen 02 dan seterusnya. Oh iya tepat pada saat absen 12 mulai turun
ke SelMa terjadi sebuah insiden! Manusia seberat 75 kiloan itu terbalik dan
tercebur saat hendak menaikan pantatnya diatas ban. Langsung saja kami yang
berada di situ panic, bukan apa-apa sih.. beratnya itu lhoo! Lanjut ya beberapa
saat setelah itu lewat sebuah popok yang isinya *tau sendiri ya* kami semua
yang belum nyemplung pun saling berpandangan dalam benak kami terlintas
bayangan-bayangan abstrak tentang air dan popok yang mengalir bebarengan dalam
selokan itu, dan rasanyaa hmmm you know what I mean. Singkat cerita lagi tiba
giliran saya dan teman-teman dengan absen terdekat saya yang menyusul para
pendahulu untuk nyemplung di SelMa. Semua pikiran aneh dan jijik saya coba
buang jauh-jauh dan saya beranikan diri untuk nyemplung dan akhirnya saya pun
bersenang-senang disana tak peduli orang-orang yang lewat memandangi kami
dengan pandangan yang jijik, yang penting saya tetap bahagia, walaupun memang
agak sedikit baud an lengket saat kami mentas dari SelMa.
Yah, sedikit
saja cerita yang bisa saya sampaikan, pelajaran yang dapat kita petik disitu
adalah bahwa sesuatu yang terkadang kita pandang rendahpun jika kita iklhas
menjalaninya pasti bisa menimbuilkan kebahagiaan. Sekian dulu ya dari saya..
GBU