Kamis, 20 Desember 2012

Goa cerme most wanted


Jumat, 23 Oktober  2012 lau kami kelas PJKR A 2011 telah melakukan kegiatan mata kuliah aktivitas luar kelas yang langsung berhubungan dengan alam. Kali ini kami menyusuri goa atau yang biasa disebut dengan caving, caving kali ini akan dilakukan di Goa Cerme  daerah Bantul tepatnya di Siluk Selopamioro Imogiri Bantul Yogyakarta. Kami melakukan kegiatan ini dibawah bimbingan Bapak Hari Yuliarto, S.Pd.,M.Kes. dan Bapak Nurhadi Santoso, S.Pd., M.Pd. Karena mengikuti pepatah satu kali dayung 2-3 pulau terlampaui maka kali ini kami melakukan penelusuran goa bersama-sama dengan kelas PJKR E 2011.Alat-alat yang harus dibawa untuk melakukan kegiatan ini adalah senter, alas kaki dan tentu saja badan yang sehat. Dan tentu saja doa sebelum masuk ke goa
Pukul 13.00 WIB, kami kelas PJKR A 2011 dan kelas  PJKR E 2011 berkumpul terlebih dahulu di GOR UNY untuk berangkat menuju tempat tujuan bersama-sama, tapi karena saya berdomisili di Bantul dan kebetulan rumah saya deket goa crème maka saya berangkat sendiri dari rumah bersama 3 orang teman saya yang sama-sama berdomisili di Bantul. Akhirnya pukul 14.00 WIB rombongan berangkat menuju Goa Cerme menggunakan kendaraan pribadi berupa motor dan mobil. Dalam perjalanan, tepatnya di Jalan Ring Road Timur Yogyakarta turun hujan lebat, rombongan terpaksa berhenti untuk memakai jas hujan. Karen saya berangkat dari rumah saya tidak kehujanan
 Setelah kira-kira pukul 15.00 WIB rombongan teman-teman saya sampai di lokasi caving, yaitu Goa Cerme dan saya sudah sampai disana lebih awal. Setelah sampai kami menitipkan barang-barang yang tidak perlu untuk dibawa masuk goa dan membawa peralatan yang harus kami bawa. Sebelum masuk goa, Bapak Hari Yuliarto, S.Pd. M.Kes melakukan pengarahan terkait tata tertib ketika berada di dalam goa dan untuk mengatur rombongan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan. Setelah pengarahan selesai rombongan langsung masuk ke Goa Cerme  disertai oleh guide dari petugas goa cerme, saya pada waktu itu ada di rombongan paling belakang.
Di dalam Goa Cerme ini ada aliran air dengan kedalaman bervariasi, hal ini dikarenakan ada sumber mata air dan juga bebatuan yang terbentuk dari proses alam. Panjang goa sendiri sekitar 1,2 km. Sepanjang perjalanan yang basah banyak anak yang terjatuh-jatuh karena licinnya jalan dan juga lubang-lubang yang tidak terlihat karena tertutup oleh air yang keruh dan suasana gelap Goa yang hanya diterangi cahaya senter. Namun, dari petualangan kami yang sangat melelahkan ini banyak kejadian yang membuat kebersamaan kami semakin kuat. Mulai dari saling tolong menoling ketika ada teman yang terjatuh, saling berpegangan satu sama lain agar tidak tersesat, memberitahu yang lain jika ada hal-hal yang dapat membahayakan keselamatan kami semua, hingga bersendau gurau sambil menikmati suasana Goa Cerme yang unuk ini. Momen-momen di dalam Goa Cerme ini sempat kami abadikan dalam lensa kamera.



Pada saat-saat terakhir kami rombongan paling belakang sempat tersesat menuju daerah berlumpur. Hal ini membuat kami panik karena kedalaman lumpur yang seakan tidak berdasar ini. Di saat kepanikan melanda kami, kami berteriak minta tolong. Namun, tidak ada jawaban. Akhirnya kami memutuskan untuk tenang dan kembali ke jalan yang kami lalui. Untungnya kami bertemu dengan rombongan kelas PJKR E dan bisa kembali melanjutkan perjalanan.
Kurang lebih pukul 16.45 WIB kami sampai di ujung mulut keluar Goa Cerme. Setelah beristirahat sejenak sambil menghitung kelengkapan pasukan PJKR A, kami kembali ke tempat awal melewati jalanan desa. Saat perjalanan ini kami pun sempat foto-foto dengan ekspresi kegembiraan setelah berhasil menelusuri indahnya Goa Cerme.
Sesampainya di tempat menitipkan barang-barang kami, kami beristirahat sejenak sambil bersiap-siap untuk pulang. Pukul 17.00 WIB, kami dibubarkan untuk kembali ke rumah/kost kami masing-masing. Dan begitulah sebuah petualangan yang tak terlupakan.

Senin, 17 September 2012

Bike at campus UNY, kapan?

Sebagai kota yang memiliki julukan "Kota Pelajar" setiap pagi lalu lintas Jogja selalu padat oleh para siswa ataupun siswi dari SD sampe SMA maupun Mahasiswa dan mahasiswi dari berbagai Universitas yang ada di seluruh Jogja. Bukan cuma para pelajar, orang-orang yang mau berangkat kerja dan transportasi umum pun ikut memberikan andil untuk kepadatan lalu lintas di kota Jogja. Penuh, sesak, udara kotor, bising, itulah hal yang lumrah kita jumpai di pagi hari kota Jogja. Kalau dibiarkan seperti ini dan melihat kenyataan bahwa pertumbuhan kendaraan di kota Jogja tiap tahun terus meningkat tanpa dibarengi dengan pertumbuhan jalan raya di Jogja, maka dapat dipastikan beberapa tahun lagi akan terjadi kemacetan yang sangat puanjjanngg di pagi hari pada hari kerja dan masuk sekolah. Baru dibayangkan saja sudah gak nyaman kan? Lalu apa yang harus kita lakukan untuk mengatasi masalah ini?

Pemerintah sendiri akhir-akhir ini telah gencar mensosialisasikan gerakan Car free day di berbagai kota di Indonesia, dan kota Jogja juga ikut berpartisipasi dalam gerakan tersebut. Contohnya saja di sepanjang jalan Malioboro di hari dan jam-jam tertentu telah diberlakukan Car free day dimana kendaraan bermotor baik mobil maupun motor tidak boleh turun ke jalanan Malioboro, karena pada jam tersebut jalanan hanya di peruntukan untuk masyarakat yang ingin berolahraga seperti joging bersepeda dan lain-lain. Dampak nyata dari kegiatan tersebut sangat terasa, survey membuktikan setelah adanya kegiatan tersebut tingkat polusi di kota Jogja berkurang, dan masyarakat banyak yang tersadar akan pentingnya olahraga bagi tubuh. Sayangnya kegiatan tersebut akhir-akhir ini seakan-akan mulai "terlupakan", semenjak terpilihnya walikota baru durasi waktu yang digunakan untuk Car free day malah justru di persempit. Lalu bagaimana?

Jika kita tinjau kembali, kegiatan Car free day memang sangat efektif untuk mengurangi polusi dan "membersihkan" udara Jogja lagi, tapi jika misalnya saja kegiatan tersebut hanya dilakukan dalam kurun waktu 1 minggu sekali saja saya kira cara tersebut kurang tepat untuk mengurangi tingkat kemacetan di kota Jogja pada hari-hari kerja dan masuk sekolah. Solusi yang akhir-akhir ini kerap di gembar gemborkan adalah Bike at school ataupun juga Bike at campus. kegiatan ini mengajak kita untuk bersepeda menuju kesekolah atau kampus, atau bisa juga bersepeda di dalam kawasan kampus. Untuk kegiatan ini Universitas Gadjah Mada (UGM) sudah menjadi pelopor dalam gerakan Bike at campus. Tidak tanggung-tanggung UGM bahkan menyiapkan ratusan sepeda yang disebar di seluruh fakultasnya agar dapat dipakai mahasiswanya. Langkah UGM ini patut kita acungi jempol.

Lalu bagaimana dengan Universitas lain? Mari kita tengok kampus saya tercinta Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Ternyata di UNY gelegar wacana Bike at campus sangat lirih sekali terdengar, Jika dibandingkan dengan UGM, UNY yang notabene hanya memiliki 7 Fakultas ini lebih siap untuk melaksanakan Bike at campus dibanding Universitas lain. Disamping jarak antar fakultasnya yang tidak terlalu jauh, di UNY juga terdapat Fakultas Ilmu Keolahragaan (FIK) yang berisi insan-insan olahraga. Harusnya UNY mampu menjadi trendsetter atau paling tidak menyamai UGM dalam gerakan ini. Harapan saya adalah agar para petinggi Universitas baik Bapak Rektor maupun Bapak Dekan di setiap Fakultas mau untuk memfasilitasi agar UNY sebagai salah satu Universitas Negeri terbaik di Indonesia dapat berbicara banyak untuk ikut memecahkan solusi kepadatan lalu lintas di kota Jogja ini dengan cara menerapkan aturan Bike at campus atau paling tidak menyediakan sepeda untuk dapat dipakai mahasiswa dalam kawasan kampus. Disamping dapat mengurangi kepadatan lalu lintas tapi udara di sekitar kampus juga pasti akan lebih bersih dan lebih nyaman.

Saya kira dengan gerakan semacam ini mahasiswa yang rumah atau kosnya relatif dekat dengan kampus akan lebih bersemangat untuk bersepeda menuju kampus, dan kalaupun mahasiswa yang rumahnya jauh dari kampus pun akan punya kesempatan untuk ikut terlibat dalam gerakan ini jika tersedia sarana yaitu sepeda di dalam kawasan kampus. Dengan begitu pemakaian sepeda motor ataupun kendaraan bermotor lainya dalam kawasan kampus saya rasa akan berkurangg. So, tunggu apalagi? mari bersepeda!

Jumat, 14 September 2012

Car free day: Kenapa belum di UNY?


Jogja sekarang padat banget, tiap pagi ratusan bahkan ribuan motor dan mobil tumpah ruah dijalanan Jogja. Dari mulai anak sekolah, pegawai kantoran, tukang ojek, taksi, truk sampah, truk pasir apa aja ada deh di jalanan jogja. Dampaknya jalanan jogja jadi macet belum lagi polusinya, beuhh parah brohh.

Dulu nih sempet mau di canangin yang namanya car free day oleh walikota jogja terdahulu, tapi rencana itu gak jadi terlaksana lantaran walikotanya keburu di ganti, sayang banget ya broh padahal kalo jadi kota kita tercinta ini bakalan punya hari khusus dimana semua kendaraan bermotor dilarang turun kejalan, ya kayak jakarta gitu yang tiap hari minggu diadain car free day. Hmm jadi kangen suasana jogja yang dulu dulu pas udaranya masih seger, adem, dan pastinya gak macet kayak gini.
Nah dari keputusan walikota baru yang mencabut rencana pengadaan car free day itu, UGM sebagai salah satu universitas di jogja gak tinggal diam broh, mereka saat ini udah mulai menerapkan car freeday itu di kawasan kampusnya. Contohnya nih di UGM sengaja menyiapkan beberapa sepeda di tiap fakultas untuk bisa dipakai mahasiswanya kuliah broh dan bukan cuma satu hari saja car free day di kawasan UGM berlaku tiap hari, jadi akan sangat jarang kita temui kendaraan bermotor di kawasan UGM, waw salute ya buat UGM (y).
Nah kalo di kampus saya UNY sih belum ada car free day kayak gt broh, padahal UNY cuma besebrangan tuh sama UGM. Sedikit malu saya broh sebagai mahasiswa dari Fakultas Ilmu Keolahragann UNY yang notabene satu-satunya fakultas olahraga di jogja, pasalnya dikampus, bahkan di fakultas saya sendiri pun belum bisa menerapkan car free day itu sendiri. Harusnya sebagai Insan olahraga kita mahasiswa dari FIK UNY mampu menjadi pelopor menuju hidup sehat. Ya paling tidak kalo kita berangkat kuliah dari kos pake sepeda kan bisa mengurangi polusi dan menyehatkan tubuh kita broh. Maka saya kira sangat perlu car free day itu di terapkan di lingkup UNY, mengingat UNY juga merupakan salah satu universitas besra di Jogja. Siapa tahu dengan menerapkan car free day di UNY rencana car free day di kota Jogja yang dulu sempat di cabut akan diadakan kembali. Harapan saya sih begitu, paling tidak dimulai dari kita dulu lah.
Harapan saya lagi agar UNY mau menjadi salah satu pendukung diadakanya car free day, paling tidak seminggu sekali lah diadakan car free day di UNY dan bukan cuma mahasiswanya saja, kalo bisa para Karyawan, Dosen, Dekan, sampai Pak Rektor bisa ikut terjun dalam upaya ini, dan mampu menjadikan UNY sebagai kampus sehat peduli lingkungan. Karena seperti orang bijak bilang "Ketika pohon terakhir tumbang di Bumi, maka apa yang bisa Manusia lakukan?".

Sekian dulu dari saya broh, semoga ocehan saya diatas bisa bermanfaat dan jika masih banyak kesalahan dan kata-kata yang kurang tepat saya minta maaf, maklum baru belajar hehe..