Selasa, 09 Juli 2013

Regret

Tak bisakah aku saja yang menjaganya Tuhan?
Selalu itu.. itu lagi itu lagi..
Seperti sebuah penyesalan, sebuah perasaan yang terkurung dalam belenggu. Menunggu sebuah uluran tangan menariku keluar dari lingkaran penyesalan. Entah memang belum waktunya ataukah mungkin memang hanya tanganya yang mampu menariku keluar. Semua rangkaian kata telah terlontar, namun sebagian lagi terpendam cukup dalam. Tak sampai mulut ini mengucap dan tak seorangpun bersedia untuk mendengar. Hanya sebuah kursi kosong di sudut sebuah ruangan yang memperhatikan. Ia mengerti sekali betapa hati ini merindu akan seseorang, seseorang yang pernah duduk diatasnya untuk mendengar setiap celoteh yang kuungkapkan. Entah kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga jadi begini. Membuat orang diatas kursi itu pergi dan tak tahu lagi apakah ia akan kembali atau menemukan kursi baru yang lebih nyaman untuknya.Kini yang tersisa hanyalah aku, duduk diam diatas kursi seberang hanya untuk memandang sebuah kenangan yang tersisa di tempat itu. Menunggu keajaiban ia akan kembali, kembali duduk diatasnya untuk memperhatikanku bercerita tentang anehnya sebuah dunia yang kita tinggali, tentang ego setiap manusia, tentang hal-hal membosankan yang tiap hari kualami, ataupun hanya sebuah imajinasi yang tak pernah terjadi.Sayangnya mungkin hal itu tak akan terjadi, sebuah keinginan yang mungkin hanya akan menjadi sebuah "limbo" mimpi di dalam mimpi. Kenapa bukan aku saja yang menjaganya? Kenapa tidak ada kesempatan untuk memperbaiki? Kenapa cepat sekali aku terganti? Banyak pertanyaan yang bahkan sampai saat ini belum terjawab, semakin aku berusaha memahami semakin rumit jawaban yang kutemukan. Entahlah sampai kapan aku akan berusaha mencari, sampai semua terjawab? sampai aku tak sanggup lagi untuk mencari jawabanya? Hanya tuhan yang tahu.

Jumat, 11 Januari 2013

Selokan Mataram trial Rafting



Saat itu siang yang lumayan terik, sekitar pukul 13:00 WIB (hari dan tanggalnya saya lupa maaf sudah terlalu lama tugas ini terbengkalai) saya beserta rombongan teman-teman saya berkumpul di komplek lapangan tenis UNY dengan masing-masing sepasang anak membawa ban truk atau juga ban tronton. Setiap orang yang lewat atau berpapasan dengan kami pasti melirik dan bingung, di benak mereka pasti terselip sebuah pertanyaan “Apa pula yg mau dilakukan bocah-bocah itu dengan ban segede itu?”. Ya memang tampak seperti kurang kerjaan anak kuliahan siang-siang bolong begitu membawa ban gede-gede, tapi tahukah kalian kalo itu adalah salah satu tugas mata kuliah kami anak PJKR FIK 2011?
Mungkin memang sedikit mainstream karena yang akan kami laksanakan adalah modifikasi dari rafting atau yang lebih di kenal dengan istilah arung jeram. Biasanya arung jeram ini dilakukan di sungai-sungai yang memiliki arus cukup kuat sehingga dalam perjalananya mengarungi sungai adrenalin kita akan terpacu. Tapi untuk kali ini ya namanya juga modifikasi, jadi kita melakukan “rafting” tersebut tidak lain tidak bukan di tempat berair yang memiliki arus yang paling dekat dengan kampus SELOKAN MATARAM.
Singkat saja ya saat itu jarum jam sudah menunjukan pukul 13:45 saat itu juga mahasiswa PJKR A absen pertama mulai mencemplungkan diri ke Selokan Mataram (SelMa) disusul dengan no absen 02 dan seterusnya. Oh iya tepat pada saat absen 12 mulai turun ke SelMa terjadi sebuah insiden! Manusia seberat 75 kiloan itu terbalik dan tercebur saat hendak menaikan pantatnya diatas ban. Langsung saja kami yang berada di situ panic, bukan apa-apa sih.. beratnya itu lhoo! Lanjut ya beberapa saat setelah itu lewat sebuah popok yang isinya *tau sendiri ya* kami semua yang belum nyemplung pun saling berpandangan dalam benak kami terlintas bayangan-bayangan abstrak tentang air dan popok yang mengalir bebarengan dalam selokan itu, dan rasanyaa hmmm you know what I mean. Singkat cerita lagi tiba giliran saya dan teman-teman dengan absen terdekat saya yang menyusul para pendahulu untuk nyemplung di SelMa. Semua pikiran aneh dan jijik saya coba buang jauh-jauh dan saya beranikan diri untuk nyemplung dan akhirnya saya pun bersenang-senang disana tak peduli orang-orang yang lewat memandangi kami dengan pandangan yang jijik, yang penting saya tetap bahagia, walaupun memang agak sedikit baud an lengket saat kami mentas dari SelMa.
Yah, sedikit saja cerita yang bisa saya sampaikan, pelajaran yang dapat kita petik disitu adalah bahwa sesuatu yang terkadang kita pandang rendahpun jika kita iklhas menjalaninya pasti bisa menimbuilkan kebahagiaan. Sekian dulu ya dari saya.. GBU