Tak bisakah aku saja yang menjaganya Tuhan?
Selalu itu.. itu lagi itu lagi..
Seperti sebuah penyesalan, sebuah perasaan yang terkurung dalam belenggu. Menunggu sebuah uluran tangan menariku keluar dari lingkaran penyesalan. Entah memang belum waktunya ataukah mungkin memang hanya tanganya yang mampu menariku keluar. Semua rangkaian kata telah terlontar, namun sebagian lagi terpendam cukup dalam. Tak sampai mulut ini mengucap dan tak seorangpun bersedia untuk mendengar. Hanya sebuah kursi kosong di sudut sebuah ruangan yang memperhatikan. Ia mengerti sekali betapa hati ini merindu akan seseorang, seseorang yang pernah duduk diatasnya untuk mendengar setiap celoteh yang kuungkapkan. Entah kesalahan apa yang telah kuperbuat hingga jadi begini. Membuat orang diatas kursi itu pergi dan tak tahu lagi apakah ia akan kembali atau menemukan kursi baru yang lebih nyaman untuknya.Kini yang tersisa hanyalah aku, duduk diam diatas kursi seberang hanya untuk memandang sebuah kenangan yang tersisa di tempat itu. Menunggu keajaiban ia akan kembali, kembali duduk diatasnya untuk memperhatikanku bercerita tentang anehnya sebuah dunia yang kita tinggali, tentang ego setiap manusia, tentang hal-hal membosankan yang tiap hari kualami, ataupun hanya sebuah imajinasi yang tak pernah terjadi.Sayangnya mungkin hal itu tak akan terjadi, sebuah keinginan yang mungkin hanya akan menjadi sebuah "limbo" mimpi di dalam mimpi. Kenapa bukan aku saja yang menjaganya? Kenapa tidak ada kesempatan untuk memperbaiki? Kenapa cepat sekali aku terganti? Banyak pertanyaan yang bahkan sampai saat ini belum terjawab, semakin aku berusaha memahami semakin rumit jawaban yang kutemukan. Entahlah sampai kapan aku akan berusaha mencari, sampai semua terjawab? sampai aku tak sanggup lagi untuk mencari jawabanya? Hanya tuhan yang tahu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar